Imam Syafi’i mengatakan,”aku menyukai untuk bertakziah kepada keluarga mayit (yang baru ditinggal mati), dengan harapan akan mendapat pahala dari takziah itu dan menghibur mereka agar tabah menghadapi musibah. Dan boleh juga seorang muslim mentakziahi orang kristiani dan mendoakan (a’zhomullahu ajroka wa akhlf anka) kemudian untuk orang kristian yang masih ada hubungan kerabat (aklfullahu alaika wa la naqs adaduka). Dan aku menyukai agar kerabat dekat mayit dan para tetangganya membuat makanan pada siang dan malam hari bagi keluarga mayit semampu mereka karena itu merupakan sunnah dan perbutan baik.[3]
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَزَّى مُصَابًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ
dari abdillah, dari nabi r bersabda, “barangsiapa yang bertakziah
(menghibur) orang yang terkena musibah (ditinggal mati) maka ia akan
mendapat pahala seperti orang yang terkena musibah itu. (HR.
At-Tirmidzi: 993)Dan syafi’iah berpendapat bahwa makruh untuk bertakziah di atas hari ke tiga dari kematian. Karena itu akan meningingatkan mereka (keluarga mayit) akan kematian dan kembali membuat mereka bersedih.[4]
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَال : قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ
طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ شَغَلَهُمْ
Dari Abdullah bin ja’far berkata, “Rasulullah r bersabda, ‘buatlah
makanan untuk keluarga ja’far, karena telah dating kepada mereka suatu
perkara yang besar.’” (HR. Abu Daud: 2725)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar