Adab-adab Berteman Dalam Islam
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)Islam sangat memerhatikan masalah adab. Bahkan semua persoalan adab dijelaskan secara sempurna dlm Islam. Ketika seorang Yahudi berkata kepada Salman z, “Apakah Nabi kalian mengajari kalian sampaipun masalah buang hajat?” Beliau z berkata, “Ya. Beliau mengajari kami ….”1
Inilah Islam. Semua yang mendatangkan kemaslahatan dunia & akhirat telah ada di dlm Islam, termasuk adab berteman.
Banyak dalil dlm Al-Qur’an & As-Sunnah yang menjelaskan adab-adab berteman. Diantaranya:
Berteman hanya karena Allah l
Rasulullah n menyatakan:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالَهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينَهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat dimana tak ada naungan kecuali naungan Allah l: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dlm ibadah kepada Allah l, seseorang yang hatinya senantiasa terkait dgn masjid, dua orang yang saling cinta karena Allah l, bersatu & berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan & kecantikan namun pemuda tersebut berkata, ‘Aku takut kepada Allah l’, seseorang yang bershadaqah & ia menyembunyikan shadaqahnya hingga tangan kirinya tak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seseorang yang berdzikir kepada Allah l sendirian hingga meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)
Rasulullah n berkata:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal, jika ketiganya ada pada seseorang dia akan merasakan lezatnya iman: Allah l & Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, cinta kepada seseorang semata-mata hanya karena Allah l, & dia tak senang kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tak ingin dilemparkan ke dlm api.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Rasulullah n berkata:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ
“Barangsiapa yang ingin merasakan lezatnya iman hendaknya dia tak mencintai seseorang kecuali karena Allah l.” (HR. Ahmad, dihasankan Asy-Syaikh Albani dlm Shahihul Jami’ no. 6164)
Memilih teman yang baik
Telah kita sebutkan di awal pembahasan bahwa tak semua orang bisa kita jadikan teman. Sehingga seorang muslim yang ingin menyelamatkan agamanya hendaknya memilih teman yang baik. Rasulullah n bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang ada di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang dijadikan sebagai temannya.” (HR. Ahmad & Abu Dawud no. 4833, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dlm Ash-Shahihah no. 127)
Al-Imam Qatadah t berkata: “Demi Allah. Kami tidaklah melihat seseorang berteman kecuali dgn yang setipe & sejenis (satu sama sifatnya). Maka hendaknya kalian berteman dgn hamba-hamba Allah l yang shalih agar kalian bersama mereka atau seperti mereka.”
Ditanyakan kepada Sufyan t, “Kepada siapa kami bermajelis?” Beliau menjawab, “Seseorang yang jika engkau melihatnya engkau ingat Allah l, amalannya mendorong kalian kepada akhirat, & ucapannya menambah ilmu kalian.” (Lihat Min Hadyis Salaf hal. 54-55)
Ibnu Hibban t berkata, “Seorang yang berakal tak akan bersahabat dgn orang-orang jahat.”
Beliau juga berkata: “Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: Istri yang senantiasa taat kepadanya, anak-anak yang shalih, teman-teman yang baik, & rezekinya di negerinya.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 22)
Menjaga kerukunan
Rasulullah n berpesan kepada Mu’adz & Abu Musa c:
يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا
“Berilah kemudahan & jangan membuat sulit orang lain, berilah kabar gembira yang membuat orang senang & jangan membuat orang lari dari agama Islam, serta hendaknya kalian rukun serta tak berselisih.”
Ini adalah adab yang senantiasa harus dijaga, terlebih lagi oleh setiap muslim, terlebih lagi para dai ilallah.
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata, “Aku telah mendengar Asy-Syaikh Muqbil berkata (dan ini aku dengar lebih dari satu kali): Demi Allah l, aku tidaklah mengkhawatirkan atas dakwah ini melainkan dari diri-diri kita sendiri.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam berkata, “Demi Allah l. Syaikh telah memiliki firasat yang sangat kuat. Rasulullah n seringkali berkata dlm khutbahnya:
وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
“Kita berlindung kepada Allah l dari kejahatan diri-diri kita & kejelekan amal-amal kita.”
Jiwa-jiwa kita, walau bagaimanapun baiknya, masih mungkin menerima & terkena kejelekan. Demi Allah l, sekaranglah waktunya kita mengoreksi aib & dosa-dosa kita jika memang kita merasa sebagai orang yang berusaha menjaga agama ini. Asy-Syaikh Muqbil t tahu bahwa dakwah ini mempunyai musuh dari luar & dari dalam. Namun bahaya mereka tak sebesar mudharat yang muncul dari penyimpangan orang-orang yang mengemban dakwah ini. Hendaknya masing-masing kita mengoreksi diri serta menimbang ucapan & perbuatannya, yang lahir & batin, dgn timbangan syar’i. Wallahul musta’an.” (Al-Qaulul Hasan fi Ma’rifatil Fitan hal. 63)
Lemah lembut kepada teman